Siaga Menghadapi Bencana Alam

Dimanapun gedung berdiri tidak akan lepas dari resiko terkena bencana alam, diantaranya ; gempa bumi, banjir, tanah longsor, tsunami, dan letusan gunung berapi.

Antisipasi yang diperlukan, misalnya ; kekuatan struktur bangunan itu sendiri, desain arsitekturnya maupun perlindungan asuransi.

Umumnya gedung yang dibangun di Indonesia dirancang untuk tahan gempa 8 – 9 skala richter. Dibelahan dunia tertentu yang sering terjadi gempa, bahkan dibuat bangunan tahan gempa dengan cara menempatkan per & shock breaker dibagian bawahnya guna mengurangi efek goncangan.

Desain bangunan terkait bencana alam, efektif untuk menghadapi potensi banjir, tanah longsor dan tsunami. Misalnya bila dekat aliran sungai, entrance ditinggikan, termasuk pintu basement. Atau dijauhkan bangunan utamanya bila ada lereng/tebing. Untuk gempa, desain lebih banyak terkait dengan jalur evakuasinya. Atau bisa saja bangunan dibuat bersudut tajam yang kearah pantai untuk membelah air bila datang tsunami.

Asuransi gedung umumnya menyertakan resiko gempa dan banjir. Cukup tinggi nilai preminya bila termasuk gempa, karena dampak yang dapat ditimbulkannya tidak bisa diprediksi. Untuk resiko bencana alam lainnya lebih baik disertakan bagi gedung yang berada dekat pantai dan gunung berapi.

Untuk penghuni gedung, memang lebih diperlukan kesiapan mental dan fisik bila menempati/tinggal di gedung bertingkat. Sebaiknya selalu mengikuti setiap pelatihan yang diadakan pengelola untuk menghadapi bencana, khususnya ; antisipasi, menghadapi bencana dan evakuasinya.

Buku panduan siaga menghadapi bencana tersedia di menu Local Refference (klik Refferences).

Leave a Comment